Kumon

Ngomongin dilema saya sebagai emak tentang kumon. Ok, saya ceritain dulu, Raka ikutan kumon sekitar 9 bulan yang lalu ketika libur sekolah dan ngga ada kerjaan di rumah. Pertama ikutan gampang, dia hanya disuruh nulis nulis angka.

Aneh 1: Gurunya mengomentari angka yang ditulis Raka karena tidak sama dengan contoh. Disuruh mengikuti garis putus (tracing) jadi seragam arahnya. Halooooo… Pernah denger font? Huruf a aja bisa beda- beda, angka pun bisa buuuuu.
Aneh 2: Seiring dengan kemajuan Raka, akhirnya Raka fasih penjumlahan. Lalu pengurangan. Saya ngga ngerti gimana cara kumon ngajarin konsep. Saya pikir mereka melewatkan konsep dan langsung terjun ke soal matematika. Soal ya, bukan persoalan. Raka frustrasi. Berat. Pengurangan bagi anak TK yang belum diajarin konsepnya ini menjadi sangat abstrak. Saya pun frustrasi ngajarinnya. Ini yang saya sebut nambah-nambahin kepusingan yang ngga wajib. Lalu saya ajak Raka menghitung mundur, mengingat kembali konsep angka sebelum ini adalah, dsb.
Aneh 3: PR nya banyak sekali. Padahal Raka harus latihan piano, latihan renang, latihan taekwondo, belum lagi ngerjain project. Raka sering skip tidur siang buat ngerjan PR kumon. Ini ngga sehat menurut saya. Dia butuh seimbang antara aktivitas dan istirahat.
Sekarang Raka belajar perkalian, di sekolah guru memuji dia karena sudah lebih maju dibanding teman-temannya untuk matematika. Raka jadi suka pelajaran ini karena dia paling bisa di kelas. Ini sisi baiknya. Hanya saja…
Ok, ini bukan tentang saya kan, ini tentang apa yang Raka suka dan minati. Saya minta dia memberikan skala kesukaan 1-3. 1 tidak suka, 2 biasa aja, 3 suka. Yang nilainya 3 adalah sekolah, renang, musik, taekwondo. Nilai 2 adalah kumon. Nilai 1 adalah perjalanan ke sekolah.
Menurut saya, keseharian Raka bukan hanya untuk kumon. Dia bisa ngerjain 4 jam sehari. Matematika bukan segalanya. Lebih penting dari itu adalah bagaimana mengaplikasikannya. Yah, saya pikir sih gitu. Jadi gimana dong? Lesnya seminggu sekali aja deh.