Trial Rumah Main Cikal

Rmc1Rmc2Rmc3Rmc5Rmc4

 

Ada apa di Rumah Main Cikal?
Ada living room dengan mainan, ada dapur mini (yang mana kompornya listrik gitu seperti yang mamah mau), ada perpustakaan dengan buku-buku menarik, dan kelas-kelas mungil yang penuh mainan dengan kaca sepanjang kelas.

Tempatnya asik. Lucu dan homy. Petugas-petugas di sana juga cekatan membantu dan menjelaskan. Kelasnya tampak terlalu kecil. Kalau isinya cuma 5 orang sih gpp, tapi ini isinya bisa 10 loh plus pengantar jadinya full house gitu.

Saking kecil kelasnya, suara Tante (sebutan untuk guru) jadi terkesan menggelegar.

Adek masih ikutan kelas Bayi-Bayi karena belum bisa jalan sendiri, tapi kalau minggu depan ikutan mungkin masuk kelas Adik-Adik 🙂

Kegiatannya:
– circle time, saling menyapa
– bernyanyi dan berjoget di depan kaca
– story telling time
– main dengan cookies mainan
– balapan merangkak
– free time

Setiap aktivitas dilakukan dengan jangka waktu yang cukup untuk ukuran konsentrasi bayi.

Adek: suka.
Mamah: Tapi kelasnya terlalu sempit.

 

 

Lillebitte – Baby & Kids Photography

Lillebitte Photography is run by Bibi Rani and Bibi Chea, both are very talented-young-stylish photographers. I’ve seen many baby & kids photography and I think Lillebitte gives me fresh perspective of baby & kids. Even though we’re related, they’re very professional, committed, and passionate. They brought tons of properties from hats to parquet, from lenses to light (i don’t know what it was).

If you’re tired with kids wearing animal outfit pictures (hey we grow them not to be tiger, rite?), call Lillebitte.

Raka got preppy. Wearing white shirt, tuxedo short pants, a bow tie, long socks and a pair of glasses. He looked like Harry Potter but cuter. During the photo-shoots, people called him cute and it didn’t bother Raka to have audience 🙂

To contact Lillebitte:
Website: http://www.lillebitte.com
Email: lille.bitte@yahoo.com
Call: 0878 8579 8109

or you can view more of their works on Evita’s blog http://www.jellyjellybeans.blogspot.com

Kudos!

[Photography] Lillebitte for Baby & Kids

Bibi R and Bibi C, both are young and VERY, I mean VERRRRY talented young-stylish-photographers. I have seen many baby and kids photography and Lillebitte just gives me fresh perspective of baby and kids.

Let us forget about how I always managed a discount or free photo shoots. I just loooove their results. Should be with a big L. LOOOOOVE…

You can call them up, they will bring home tons of lenses, atributes, even to parquette, and lightings! If you’re tired of with kids wearing animal outfit-pictures, then Lillebitte is your answer.

L1

Contact them:

Facebook: http://www.facebook.com/lillebitte.photograph

Ginz Mom Baby Wrap

Sleepy wrap versi lokal. Saya beli warna royal blue buat ganti kalau si SW lagi dicuci. Harganya Rp160.000 saja.

Bahannya katun-spandex, saya suka bahannya lebih tipis dibandingkan SW jadi lebih adem tapi cepat melorot. Bukan melorot jatuh, tidak sekencang waktu awal pakai, jadi perlu mengencangkan ikatan atau mengulang ikatan. Beda dengan SW yang posisinya tidak berubah melorot dan tidak perlu dikencangkan ulang.

Overall baguslah harganya toh 1/3 harga SW 🙂

Sleepywrap

Ini gendongan bayi canggih tapi rumit. Fungsinya serupa dengan kain jarik dengan elastisitas yang lebih baik.

Saya beli ini karena beberapa ulasan jempolan tentang gendongan ini. Saya beli warna navy blue (padahal pengennya royal blue, tapi ya sudahlah hanya navy blue yang harganya dibanting habis).

Saya ulas positif & negatifnya ya.

Negatif:
– Harganya mahal, hampir 500rb. Kalau ngga diskon karena sellernya salah beli warna, mungkin saya ngga akan punya.
– Kalau lagi panas, bisa bikin bayinya kepanasan. Bahkan saya curiga biang keringat di kepala Attar adalah karena kelamaan pakai Sleepywrap ini ketika jalan-jalan ke Bandung kemarin.
– Awalnya ribet memahami cara pakainya, sampai harus browsing di Youtube dulu.
– Cepat kotor. Kayaknya setiap 2x pakai harus dicuci deh.

Positifnya:
– Handsfree. Dengan gendongan ini, dua tangan saya bisa bebas ngapain aja.
– Nyaman dipakai lama. Ngga bikin pegal
– Hangat. Bahannya yang hangat jadi kelebihan tersendiri kalau cuaca sedang dingin.
– Bisa berbagai posisi, bahkan memudahkan apabila harus menyusui di luar.

Sebenarnya ada lagi gendongan serupa ini, namanya Baby K’tan. Namanya ketan tapi harganya setara 2 gram emas. Kalau mau ngasih, saya pengen warna hitam ya.

Holycow!

Setelah ngiler-ngiler ngga jelas, akhirnya sempat juga mencicipi steak Holycow! Sempat karena akhirnya mereka buka di Senopati. Coba kalau masih hanya di Radio Dalam, bisa dipastikan tidak akan pernah nyoba sampai dua tahun lagi.

Tempatnya tidak seperti restoran steak yang fine dining geto. Kursinya berjejeran rapat, warna merah, tidak ada senderan. Saya datang jam 11 siang kurang dikit (resto ini buka jam 11 siang), tidak pakai antri, langsung cari tempat dan dilayani.

Menunya yaaaa steak segala jenis. Saya kurang paham, tapi katanya yang enak wagyu jadi pilih wagyu deh. Pertama kali nyoba berduaan sama Raka. Saya pesan Wagyu Sirloin, Raka makan Bergyu (Burger Wagyu). Kali kedua sama suami, saya tetap pesan itu, suami rib eye wagyu, Raka ogah makan.

Enaknya untuk bumil dapet gratis minuman pertama, jadi ngga usah bayar lagi. Untuk suami saya pesankan Nestea yang bisa refill. Raka ngga usah pesen, minta aja sama Nestea ayahnya. Trus kalau nge-tweet lagi di Holycow! bisa minta Tiramisu classic. Jadi, tiramisunya untuk Raka deh.

Steaknya? Empuk sih iya. Enak juga. Sausnya kurang menurut saya kurang enak. Saya terbiasa dengan menu steak yang sausnya lebih cair dan berlimpah. Verdict:

Raka: “enak dapet keripik dicocol saos tomat, kuenya enak, tapi ngga suka dagingnya.”

Suami: “ini sih mamah doang yang makan… berlemak banget. Makan juga kayak diburu-buru gitu, ngga santai”

Mamah: “ya emang untuk steaknya lebih enak dimakan tanpa saus (pilihannya ada BBQ, mushroom atau black pepper), tapi enak kok dicocol sambal. Sayurnya kurang banyak, kentangnya berminyak.”

Masih banyak steak yang lebih enak, tapi gapapa lah sekali-kali nyobain Holycow! Oiya, kalau mau ke sana, bawa tunai ya soalnya tidak terima segala jenis perkartuan.

Review Online Photo Editor

Ketik aja free online photo editor (fope) di oom google, nanti keluar deh beberapa online editor yang bisa dicoba satu per satu.

Ada efek-efek favorit di masing-masing FOPE itu, tergantung dari kitanya mau ngapain dengan foto itu. FOPE ini diambil kalo bosen dengan picassa 😀
Efek favorit saya adalah1960’s. Lucu aja, warnanya lain dan pinggirannya bisa melengkung.
Efek favorit saya adalah Old Movie. Lucu banget!
Efek favorit saya adalah Make Love Not War (sumpah judulnya itu). 
Efek favorit saya adalah Nambahin Layer. Tapi web ini lambaaaaaaaaaat sekali di komputer saya. Capek deh.
Foto ini dilayer dengan katun jadinya bertekstur gini. Mestinya level opaque-nya dikecilin dikit biar muka gue ngga keliatan bertekuk-tekuk.
Yang paling gampang adalah Picasa, tapi yang udah terinstall manis di komputer 
Abis download tekstur gratisan. Nanti dicoba deh.

Sari Sanjaya

LaksanLenggang-gorengBurgoOtak-otakAneka-pempek

Sabtu kemarin, jalan-jalan ke arah Tebet. Ngga sengaja nemu Sari Sanjaya.. (SS) yippieeeeee!!!! Biasanya makan di SS Radio Dalam, restonya kecil mungil. Nah SS yang di Casablanca ini lumayan gede, mirip sama Dapur Palembang (DP).

Dalam hal rasa sih saya vote SS daripada DP. Kalau DP terlalu asin buat lidah saya (padahal saya pecinta asin loh).

Kemarin di SS mesennya cuma ini doang (liat gambar dong ah).
1. Aneka Pempek
2. Lenggang goreng
3. Laksan
4. Burgo
5. Kapal selam (ngga dipoto)
6. Otak-otak
Ngga ada celimpungan. Payah!

Enak-enak semuanya. Tapi ternyata saya tetap lebih suka SS Radio Dalam, soalnya bebas lalat dan ada celimpungan.

Yummm.. harga aneka pempek Rp3.500/ biji. Lenggang dan teman-teman berkisar Rp10.000 – Rp12.500.. minumnya teh tawar aja biar gratis 😀

Oh terus abis itu kita makan Bebek Ginyo hihihi. Maruk ya.. makan bebek kremes, cabe ijo, balado (haduh haduh banyak sekali). Tapi menurut saya masih enakan Bebek Tunjungan letaknya ngga berapa jauh dari si Ginyo ini. Harganya lebih murah (karena tempatnya warung gitu), tapi nasi kebulinya nendang abessssh..

Cukup sekian. Saya tetep ngidam celimpungan!

[Book] The Last Lecture

Genre: Parenting & Families

Writer: Randy Pausch

Saya suka buku-buku parenting yang tidak menggurui, saya mengkategorikan buku ini dalam daftar buku parenting favorit. Ada beberapa pesan yang saya pikir paling mengena.. daleeem gitu loh. Tapi yang lebih mengesankan lagi adalah pemikiran Randy Pausch untuk meninggalkan cinta dan mewariskan pengajaran kepada anak-anak kecilnya yang tidak akan tumbuh dengan sosoknya.

Sinopsis:
Banyak profesor menyampaikan ceramah berjudul “Kuliah Terakhir.” Mereka diminta untuk memikirkan kematian mereka dan merenungkan hal-hal apa saja yang paling berarti bagi mereka. Sementara mereka berbicara, hadirin mau tak mau memikirkan pertanyaan yang sama, yaitu “kearifan apa yang akan kita tanamkan kepada dunia jika kita tahu ini kesempatan terakhir kita? Jika kita harus mati besok, apa yang kita inginkan sebagai pusaka atau warisan kita?”

Ketika Randy Pausch—seorang profesor ilmu komputer di Carnegie Melon—diminta memberikan ceramah semacam ini, dia tidak perlu berkhayal bahwa itu adalah ceramahnya yang terakhir. Karena, tidak lama sebelumnya, dia didiagnosa menderita kanker yang mematikan, sementara hidupnya sudah dipastikan hanya tinggal beberapa bulan lagi. Mengejutkannya, kuliah yang dia sampaikan justru bukan tentang kematian. Bahkan yang lebih mengejutkan lagi, kuliah inilah yang mengubah seluruh sisi kehidupannya dan memberi dampak positif terhadap hadirin yang mendengarkannya. Lalu apa sebenarnya isi kuliahnya? Dalam buku ini, Randy Pausch menggabungkan humor, inspirasi, serta kecerdasan yang membuat kuliahnya begitu fenomenal, dan memberi wajah atas kuliah itu dengan penampilan yang teguh.

Inilah buku yang akan terus dinikmati bersama selama beberapa generasi mendatang. Randy Pausch, seorang profesor di bidang Ilmu Komputer, Ilmu Komputer Interaksi Manusia, dan bidang Desain di Universitas Carnegie Mellon. Sejak tahun 1988 hingga 1997, dia mengajar di Universitas Viginia, dan memenangkan penghargaan guru dan peneliti.

Dia juga bekerja bagi perusahaan Adobe,Google, Electronic Arts (EA), dan Walt Disney. Dia tinggal di Virginia bersama istrinya dan tiga orang anaknya. Jefrey Zaslow, seorang kolumnis bagi Wall Street Journal, yang menghadiri Kuliah Terakhir yang ditulisnya hingga mendapatkan sorotan dunia. Dia tinggal di kota Detroit bersama anak dan istrinya.

Tonton juga Randy Pausch (alm) di Oprah: http://www.youtube.com/watch?v=o8uZBKyrKTU